Persimpangan

Sekali lagi, aku terpaku melihatnya menari. Mengikuti setiap gerakannya yang gemulai dengan mataku, tak ingin melewatkannya barang sebentar. Entah apa yang membuatku tak dapat melemparkan pandangan ke tempat lain setiap kali ia menari. Gerakannya tak jauh berbeda dengan yang lainnya. Mereka menarikan gerakan yang sama dengan mimik yang sama dan keanggunan yang sama. Lagipula, gerakan yang monoton tersebut sudah lama tercetak dengan baik di otakku. Jadi, tak kudapati sedikitpun hal menarik lainnya yang pantas untuk mendapatkan perhatianku.

Aku menghela nafas, tidak menyadari bahwa aku menahan nafas untuk waktu yang cukup lama. Mereka sudah selesai menari, tersisa 15 detik terakhir sebelum akhirnya aku dapat melewati persimpangan jalan ini. Penari tadi mengetuk jendela mobilku, dan seperti biasa, aku mengambil 2000 untuk kuberikan padanya. Seulas senyum terima kasih adalah balasan yang kudapat karena sudah menghargainya. 

Seulas senyum yang selalu membuatku terpaku sesaat dan merasa sangat beruntung mendapatkan seulas senyum tersebut. Seulas senyum yang membuatku ingin menghentikan waktu untuk terus menikmatinya tanpa harus takut ia menganggapku macam-macam. Senyuman yang dapat membuat otakku berhenti bekerja sesaat. 

Aku menganggukkan kepalaku sedikit dengan kaku menjawabnya setelah kembali menyadari aku kembali terpaku karena senyumnya, dan segera melaju pergi meninggalkannya yang berjalan ke pinggir.
Aku merenggangkan badan, merasa lelah setelah memeriksa beberapa laporan penting. Saat itulah mataku menangkap kalender di ujung mejaku. Lingkaran merah di tanggal 30 mengingatkanku pada suatu hal. Kepindahanku ke Solo, satu minggu lagi. 

Beberapa bulan yang lalu, Pak Wiryo, pemilik perusahaan ini, datang dan membujukku untuk pindah ke Solo, menjadi direktur di sana. Dengan berbagai desakan, Pak Wiryo membuatku tak dapat berkutik lagi, dan dengan terpaksa kuiyakan tawarannya. Bahkan hingga kini, aku belum sempat mengadakan syukuran kenaikan jabatan yang sebenarnya tak kuinginkan. 

Mengingatnya membangkitkan rasa pedih dalam diriku. Rasa pedih karena aku tak akan pernah melihat penari itu lagi, penari yang bahkan namanyapun tak kuketahui, penari yang dapat membuatku mencicipi sedikit kebebasan dari dunianya dan keluar dari duniaku yang penuh dan sesak. Tetapi, apa daya, inilah duniaku, dunia yang penuh dengan paksaan dan janji tanpa kerelaan dan kebebasan. Dan kini, aku hanya dapat terduduk lemas mengingatnya.
Aku menyetir mobilku perlahan, kembali berputar di persimpangan yang sama, dimana aku dapat melihat penari itu lagi, sebelum kembali ke kos. Baru saja aku merayakan kenaikan jabatan yang sebenarnya tak kuinginkan bersama teman-teman sekantor. Walaupun dengan hati berat, tetap saja aku harus terlihat antusias karena kenaikan jabatan tersebut. Bukankah manusia dewasa sudah diprogram untuk melakukan apapun yang dunia inginkan, bukan apa yang benar-benar ia inginkan? Aku tersenyum kecut menyadari hal tersebut.

Aku memberhentikan mobilku perlahan di kanan jalan, tempat biasa dimana penari tersebut mempertunjukkan tariannya. Mataku kembali tersihir oleh gerakan penari tersebut. Setiap gerakan halus yang ia berikan diputar kembali dalam otakku. Kunikmati saat-saat dimana aku dapat menatapnya lekat, tanpa ia sadari dan orang lain sadari. Saat ketika waktu terus berputar namun aku terhenti di satu titik yang sama.

Aku tersentak dan kembali ke dunia, ketika sebuah ingatan menghantamku. Benarkah aku jatuh cinta pada penari itu? Aku menyangsikan hal tersebut. Bahkan namanyapun aku tak tahu, aku hanya mengenali wajahnya, bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padanya? Tetapi, masih terukir di ingatanku kata-kata Benny tadi.

“Kau mencintainya kan? Kenapa kau tidak berusaha mengenalnya dan hanya terus berdiam diri di tempat yang sama untuk memandanginya dari jauh. Tak banyak kesempatan yang datang, kau harus bisa memanfaatkan kesempatan itu atau menciptakan kesempatan itu untuk mengenalnya”

Sampai kinipun aku masih belum dapat menjawabnya. Kurasa tak akan ada sedikitpun kesempatan bagiku untuk mengenalnya. Ia di dunianya, dunia yang tidak mengenal batas dan bebas, meninggalkanku di duniaku yang sempit dan sesak, dunia yang tak akan pernah bisa mencapai dunianya.
Hari terakhir di kota ini, dan aku tidak mendapatkan kehadiran penari itu selama tiga hari terakhir ini. Sudah kuputari kota ini, tapi tak kutemui juga penari itu. Aku merasa terpuruk. Bahkan sebelum aku menguatkan hati untuk meninggalkan penari itu, ia sudah meninggalkanku terlebih dahulu. Aku tidak akan pernah tahu apa yang terjadi padanya, apa yang menyebabkannya tidak menampakkan batang hidungnya lagi.

Aku hanya dapat menatap kosong ke depan, melihat seorang penari pengganti menari, dan kembali memberikan 2000 seperti biasa untuk menghargai mereka. Tidak, hanya untuk meneruskan kebiasaan, karena sebelumnya aku memberikannya karena penari tersebut, tetapi kini tidak lagi, hanya untuk kebiasaan yang tidak kusadari terjadi.

Aku sadar aku memang tidak ditakdirkan untuk bersamanya, tetapi apakah aku juga tidak ditakdirkan untuk menikmati keanggunannya dari jauh? Aku tidak dapat menerimanya, karena aku bahkan tidak menuntut hal lebih. Tapi, apa dayaku.

Aku kembali memacu mobilku. Melangkah ke depan dalam gundah. Meninggalkan seberkas harapan dalam gelapnya malam, yang mungkin tak dapat kucapai.
Aku kembali ke kota ini. Beberapa bulan terakhir yang kuhabiskan di Solo tidak juga menghapus rasa rinduku terhadap kota kelahiranku. Belum juga seberkas harapan terakhir yang kutinggalkan di sebuah persimpangan. Kuputuskan untuk kembali ke sana, mengambil kembali  harapanku yang tertinggal, apapun yang akan kudapati. Seberkas rasa kehilangan dan sedih masih tersimpan rapat, tetapi setidaknya kini aku dapat menghadapinya dengan lebih berani.

Kuhentikan mobilku, ketika lampu merah menyala. Mataku mencari wajah tersebut di pinggiran jalan. Penari tersebut tak kembali. Aku hanya dapat menghembuskan nafas berat. Kuharap penari tersebut mendapat kesempatan yang lebih baik dan selalu bahagia hidup dalam dunianya.

Saat aku berusaha menghibur diri, mataku menangkap sebuah warung kecil di seberang jalan yang tak pernah kulihat sebelumnya, dan kuputuskan untuk mampir sebentar.

Aku masuk dan memesan segelas es teh, dan ketika itulah aku tersentak. Aku mengenali pemilik warung kecil tersebut. Wajahnya yang selalu kurindu dan kucari, akhirnya kutemukan juga. Ia adalah penari itu. Aku terdiam sesaat begitu menyadarinya.

“Lho, Mas?” kata penari tersebut padaku.

“Mbak tahu saya?” jawabku. Aku tak menyangka akan mendapat sambutan seperti itu darinya.

“Tentu saja kenal, Mas. Bagaimana tidak? Setidaknya satu kali dalam sehari mobil Mas lewat sini. Setiap hari Mas selalu memberi 2000 pada kami, saat saya masih menari dulu.”

“Eh ya, mau pesan apa?”

“Es teh saja,” jawabku singkat. Tak banyak orang yang mengunjungi warung kecil ini. Mungkin aku dapat berbicara dengannya setelah ia membuat pesananku.

“Mas pindah kerja tho? Kok sudah lama tidak terlihat?” tanyanya saat memberikan es teh padaku. Aku mengangguk sambil meminum sedikit teh tersebut.

“Saya pindah Solo beberapa bulan lalu.” Ia mengangguk-angguk mendengar jawabanku.

“Buka warung sudah lama? Terus menarinya bagaimana? Ditinggalkan begitu?”

“Belum lama, baru satu bulan terakhir ini saya buka warung. Ya mau bagaimana lagi, Bapak melarang saya menari. Tak punya masa depan katanya, cukuplah sebagai hobi.” Terlihat kesedihan di matanya saat ia mengatakannya. Ternyata dunianya tak seindah itu, ia mungkin sudah merasakan sedikit duniaku yang pahit. Aku hanya dapat mengangguk kecil tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Tapi, saya tidak meninggalkan menari begitu saja seperti kata Mas. Saya masih menari, hanya dalam event-event tertentu, tetapi harus diam-diam dan banyak alasan untuk itu, karena bisa mengamuk Bapak nanti kalau tahu saya masih menari.” Ah, ia masih sebebas dulu.

“Tahu begitu kenapa masih nekat?” tanyaku sambil tertawa.

“Menari hidup saya, kenapa saya harus melepaskan ketika Bapak saya tidak setuju. Bukankah yang hidup saya bukan Bapak, biar semua saya yang jalani dan putuskan.” Aku tersentak. Kata-katanya tersebut seperti menyindirku. Mengingatkanku bahwa aku selalu menuruti apa yang orang lain mau, tanpa mempedulikan keinginanku, menjadikanku robot yang selalu bekerja tanpa semangat. Hingga akhirnya aku tersesat dalam penderitaan ini.

  “Ah, saya sampai lupa, kita bahkan belum saling tahu nama masing-masing. Saya Lani,” kata-katanya menyadarkanku dari lamunan.

“Saya Harry,” aku menjawab sambil tersenyum dan menjabat tangannya. Kudapati sebuah cincin melingkar di jari manisnya. Sebuah kejutan lain.

“Sudah menikah?”

“Baru saja. Suami saya juga yang melarang saya menari.” Aku diam mengetahui kenyataan tersebut. Memang benar harapanku terpenuhi, tetapi ada harga yang harus dibayar. Aku mengangguk dan kembali meminum tehku, menutupi keterkejutan dan kesedihanku.

Setidaknya aku tahu dimana aku dapat menemui penghiburku, kini…

Ketika Hujan Turun

Rintik-rintik hujan mulai turun. Tik, kemudian tik lagi, disusul tik lainnya. Begitu seterusnya. Langit benar-benar gelap. Matahari sudah tidak tampak, terselimuti awan hitam dengan sempurna. Bau hujan dapat mulai tercium di hidung. Benar-benar menyegarkan. Sepertinya sebentar lagi hujan deras akan turun.
Walaupun baru memasuki awal bulan Juli, namun hujan sudah sering turun. Beberapa orang merasa kesal karenanya. Mengeluhkan betapa tidak teraturnya cuaca akhir-akhir ini. Namun, tidak bagiku. Aku tersenyum senang karena hari ini hujan. Karena dengan adanya hujan ini, aku dapat bertemu dengannya.

“Tiara, yakin akan memberikan surat itu?” tanya Fiona ragu sambil memandang amplop merah jambu yang kupegang. Aku mengangguk yakin, menjawabnya. Aku sudah menunggu saat ini cukup lama. Jika aku tidak menyerahkannya sekarang, aku akan sulit bertemu dengannya lagi. Aku harus menunggu hingga hujan turun lagi. Hanya pada saat itulah kami bertemu.

“Tapi, harusnya kan cowok yang nembak duluan,” kata Fiona lagi.

“Fiona, sekarang jamannya emansipasi wanita. Udah nggak ada lagi tuh kata cowok nembak duluan. Masak semua hal cowok duluan. Cewek juga bisa dong,” kataku sambil mendekatkan diri padanya. Walaupun aku harus tetap menjaga jarak, agar payung kami tidak bersenggolan. “Lagipula, jika tidak sekarang, tidak akan ada waktu lagi,” tambahku menerawang, “aku tidak yakin ia akan mengatakan perasaannya padaku misalpun ia menyukaiku jika aku tidak memulainya lebih dahulu.”

“Tapi, Ra, kalau ditolak kan malu.”

“Aku tidak peduli. Setidaknya aku sudah mengatakannya.” Aku kembali menatap hujan sambil mengangkat bahuku. Fiona menghela nafas, menyerah untuk membuatku kembali mempertimbangkan keputusan untuk menyatakan perasaanku.

Halte bus depan sekolah kami tinggal beberapa langkah lagi. Dalam hati, aku berharap ia sudah menunggu hujan berhenti di halte. Sehingga aku dapat langsung menemuinya dan berbicara tentang banyak hal padanya. Tentu saja juga menyerahkan amplop itu.

Hujan mulai deras, sehingga aku tidak dapat melihat dengan jelas. Namun samar-samar kutangkap sosok tubuh yang kukenali. Sosok tubuhnya. Aku tersenyum kecil. Ia sudah berteduh.

“Semoga berhasil,” kata Fiona padaku, sebelum berjalan ke arah lain. Aku tersenyum pada Fiona sekilas, dan kembali menatapnya. Dalam-dalam kutarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Aku siap. Kembali kulangkahkan kakiku, mendekati halte tersebut.

“Hai, Gadis Hujan,” sapanya saat aku menaruh payungku di samping tempat duduk. Aku memandangnya lama. Ia memang tidak tampan, namun matanya benar-benar menarik. Terlihat hangat namun juga tajam. Aku sangat menyukainya.

“Sepertinya, kamu yang selalu muncul saat hujan, bukan aku. Harusnya aku yang memanggilmu Pria Hujan atau mungkin Manusia Hujan jika Pria terlalu aneh, bukan kamu yang memanggilku Gadis Hujan,” balasku setelah beberapa saat. Ia mendengus pelan, mendengar jawabanku. Namun, ia tidak membalasku dan hanya menatap titik-titik hujan. Ia tidak terlihat seperti biasanya.

“Ada apa?” tanyaku padanya. Ia menggeleng perlahan, namun masih tetap terpaku pada derasnya hujan. “Tidak suka hujan?” tanyaku lagi ragu-ragu. Aku akan benar-benar kecewa jika ia tidak menyukai hujan. Karena aku sangat menyukainya. Bukan hanya karena dapat bertemu dengannya. Namun, aku benar-benar menyukai hujan, bahkan sebelum aku bertemu dengannya. A Pluviophile, mungkin itu sebutan yang pantas kusandang. Walaupun demikian, dengan adanya ia saat hujan, aku tidak hanya menyukai hujan. Hujan menjadi nafasku, sebagian dari diriku. 

“Siapa yang tidak suka hujan? Semua orang pasti menyukainya, termasuk aku,” jawabnya sambil tersenyum geli mendengar pertanyaanku. “Hanya saja, aku lebih menyukai matahari yang hangat,” lanjutnya.

Tentu saja. Ia pasti lebih menyukai matahari. Sama seperti sinar matanya yang sehangat matahari saat menatapmu. 

Aku menundukkan kepala, menekan amplop merah jambuku. Mungkin seharusnya, kuberikan padanya saat matahari bersinar. Saat-saat yang lebih ia sukai. Namun, aku tidak akan pernah memberikannya, jika aku menunggu matahari bersinar. Ia hanya muncul di halte ini saat hujan turun. Dimana kesempatanku?

“Mau tahu, hujan ini mengingatkanku pada apa?” tanyanya padaku, karena aku tidak menanggapi perkataan terakhirnya.

“Apa?” Aku mengangkat kepalaku, menatapnya.

“Hujan Bulan Juni.”

“Ha?”

“Iya, Hujan Bulan Juni. Walaupun, aku tahu, ini sudah bulan Juli. Namun tetap saja, harusnya bulan ini masih musim kemarau. Jadi, aku teringat pada puisi itu. Kamu pasti tahu puisi itu. Puisi yang sangat bagus kan?” Oh, puisi. Kukira apa. Ya, tentu saja aku mengetahui puisi itu. Puisi itu sangat terkenal.

“Ya, puisi yang sangat indah,” desahku perlahan, menyetujuinya. Kami terdiam lama setelahnya. Benar-benar dalam hening. Namun, hening yang menentramkan, dan nyaman. Saat-saat yang kusuka bersamanya.

Kesenggangan di antara kami, membuatku merasa ini adalah saat yang tepat untuk menyerahkan amplop tersebut. Aku melihat amplop merah jambuku sesaat dan mengambil nafas, mempersiapkan diri. Apapun jawaban yang dia katakan, aku akan menerimanya. Jika ia tidak menyukaiku, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Jika ia menyukaiku, aku tidak yakin harus berbuat apa, namun, aku sangat mengharapkannya. Perlahan-lahan kuangkat amplop tersebut, berniat menyerahkannya . 

“Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu,” mulainya perlahan sebelum aku sempat memberikan amplop tersebut. Segera saja aku kembali menjatuhkan tanganku. Mungkin ini bukan saat yang tepat. 

“Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni, dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu,” katanya melanjutkan puisi tersebut dengan nada sendu yang mengiris hati. Aku memandangnya dan mendapati raut wajahnya yang sedih, menghayati setiap kata-kata dalam puisi itu. Aku merasakan sedikit nyeri di hatiku, merasa ikut sedih melihat kesedihannya. Namun, tak dapat kusangkal akupun terpesona oleh guratan wajahnya.

Aku menunggunya melanjutkan puisi tersebut. Namun ia tak terlihat berniat sedikitpun untuk melanjutkan puisi itu. Kupalingkan wajahku dari pesonanya dan menatap rintikan hujan.

“Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni, dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu,” lanjutku perlahan akhirnya, menyelesaikan puisi tersebut. Dari sudut mataku, dapat kutangkap ia menengok ke arahku, tersenyum.  Namun, kuputuskan untuk tidak balik menatapnya dan terus mengamati rintik-rintik hujan yang semakin deras.

“Betapa romantis puisi itu. Bahkan, dalam kata-kata yang sederhana, Sapardi Djoko Damono sanggup merangkainya dengan indah. Menyisakan kesan dalam bagi para pembacanya. Tak heran ia menjadi sastrawan terkenal,” desahnya. Aku menganggukan kepalaku tanpa mengatakan apapun. “Walaupun maknanya menyakitkan,” lanjutnya,” Seseorang yang rela menunggu pujaan hatinya, dan tidak juga mengatakan perasaannya. Dan lucunya, aku merasa tersindir dengan puisi tersebut.” Ia tertawa kecil di akhir perkataannya.

Aku segera menatapnya, tidak percaya. “Kamu suka seseorang?” ucapku menyuarakan pertanyaan di otakku. Ia tersenyum kecil dan memandang sendu hujan sebelum mengangguk perlahan. Siapa? Aku terus menatapnya, berharap ia mengatakan orang itu aku. Namun, ia tidak juga mengatakannya dan hanya terus menatap hujan yang tak juga berhenti. 

Kupalingkan wajahku. Sesuatu seakan menamparku. Aku menyadari sesuatu. Ia tak mungkin menyukaiku. Jika ia menyukaiku, ia tidak mungkin mengatakannya padaku, karena ia menunggu orang yang ia sukai.

Menyadari kenyataan tersebut, aku hanya dapat menunduk, menyembunyikan wajahku sambil menata hatiku. Aku sudah mempersiapkan saat ini, tetapi tetap saja terasa menyakitkan. Tetap saja, hatiku terasa perih. Mengetahui orang yang kau sukai tidak menyukaimu, itu menyiksa. Apalagi jika harus berusaha melupakannya. Sia-sia sudah semua harapanku, dan tentu saja surat merah jambuku. Untuk apa pula, aku menuliskannya dengan susah payah, karena bahkan ia tidak melihatku. Ya, ia tidak pernah memandangku sama seperti aku memandangnya.

Kuremas surat itu, dan memasukkannya ke dalam saku rokku, sebelum ia menyadarinya. Aku harus berusaha mengubur perasaan ini, dan melupakannya, sebelum aku semakin menyukainya. Harus, walaupun aku tidak rela.

“Ada apa? Kenapa diam? Tidak biasanya kamu sediam ini,” tanyanya membuyarkan  pikiranku. Aku mengangkat wajahku, menatapnya, berusaha terlihat biasa.

“Tidak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum terpaksa, dan langsung memalingkan wajahku. Aku tak sanggup menatapnya terlalu lama. Semakin lama, aku menatapnya, semakin dalam aku menyukainya, dan semakin menyakitkan mengetahui ia tidak menyukaiku.

“Kamu ingin tahu, siapa gadis itu?” tanyanya.

“Tidak perlu. Aku tidak penasaran.” Tidak, aku tidak akan mau menyakiti hatiku dengan mengetahui gadis beruntung tersebut. Cukup sudah hari ini aku patah hati. 

Kami kembali terdiam, setelah perkataan terakhirku. Dan untuk kali ini, keadaan yang aneh. Setidaknya untukku. Tapi, aku sudah membulatkan tekadku untuk tidak lagi mendekatinya. Aku akan menjaga jarakku.

“Bisku sudah datang. Selamat tinggal, Gadis Hujan,” katanya setelah sekian lama sambil mendekati pinggir halte, memberi tanda agar bis jurusan rumahnya berhenti. Aku tersenyum kecil, membalasnya. Sayonara, dan aku akan segera melupakanmu.

Namun, ia berbalik dan menatapku lama. Aku mengerjapkan mataku, tidak yakin mengapa ia menatapku seperti itu.

“Tiara, jika kamu bertanya padaku mana yang lebih kusuka, sinar matahari atau rintik-rintik hujan. Dulu aku akan dengan yakin menjawab sinar matahari,” mulainya. Aku hanya dapat diam menunggunya melanjutkan perkataannya. Ia mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan, “namun, setelah mengenalmu, aku bahkan tak yakin akan jawabanku. Karena untukku, kamu menjadi sinar matahariku saat hujan datang. Kamu membuatku merasa hangat dan tenang hanya dengan menemaniku di sini. Kamu perlu tahu itu. Aku menyukaimu, Tiara. Sebanyak rasa sukamu pada tetes-tetes hujan dan rasa sukaku pada sinar matahari.”

Aku hanya dapat terdiam mendengar perkataannya, benar-benar tidak menyangka akan mendengar hal tersebut dari mulutnya. Namun, bahkan sebelum otakku dapat pulih sepenuhnya dan merespon kata-katanya, bis yang dinaikinya berhenti. Namun, ia tak segera naik. Sepertinya ia belum selesai bicara.

“Besok datanglah lagi ke halte ini. Walaupun tak hujan tak apa. Karena aku juga ingin menikmati sinar matahari bersamamu. Kuharap kamu akan menyukainya, seperti aku menyukai hujan karenamu,” katanya lagi. Setelah mengatakan itu ia segera naik dan melambaikan tangannya.

Beberapa saat setelah ia pergi, barulah aku dapat menguasai diriku kembali. Aku benar-benar tak menyangka, ia menyukaiku sama seperti aku menyukainya. Rasa hangat mengaliri dadaku, setelah menyadari hal itu. Aku tersenyum kecil. Aku tak menyangka ia akan mengatakan hal tersebut sebelum aku menyerahkan amplop merah jambuku. 

Tapi, aku juga merasa menyesal belum sempat membalas perkataannya dan mengatakan padanya bahwa aku juga menyukainya. Namun, kurasa tak apa. Ia akan mengetahuinya besok. Aku pasti akan mengatakan perasaanku padanya.

Aku meronggoh kantungku mengambil amplop merah jambu tersebut. Membukanya perlahan, berniat untuk membaca apa yang kutulis. Puisi yang merupakan hasil karya orang yang sama dengan puisi yang baru saja kami ucapkan bersama. Puisi sederhana, namun menjelaskan semua perasaanku. Puisi yang akan sampai di tangannya pada hari bersinar pertama kami.
Untuk Rano,


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu

Kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

Kepada hujan yang menjadikannya tiada 


(Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono)

Everybody Leaves, so do He

So actually today is our day to celebrate christmas. We have the rundown also. But, today everybody leaves. They have an activity in their organization, and he also. Well, I feel a little bit sad, because I also want to get accepted in the organization, but I’m not. And it makes me don’t in the organization with him. Also there is an interview with the BEM FT, then everybody leaves, while I’m staying here. There are only a few friends left here. It’s pitiful 😦

Pest

Drizzle fell since afternoon today. It bring back some memories about he and I. But, I don’t really think I’m in a good mood to talk about him. Why? Because he acted so pesky (at least for me) today. Ok. Just this. Bye. I. Hate. Him. Maybe tomorrow I will tell you the second part of the memories, also this.

Memories part 1 (Also A Heartache)

Well, I want to write about my crush again even though I know it’s not an important thing to talk about. Haha.

The first time I took a glance at him, I just think that he have a well-build body and also an attractive face. But, I didn’t care about him, and it never cross my mind that soon I will started to have an anxiety toward him. This is kindda crazy if I tell you how this feeling started. Okey, I didn’t fall for him at once, but started that day I’m started thinking about his kindness. And I have to say that it’s funny if I think about this reason. But, this story is too long to be written in one post, so maybe I’ll split it into some parts.

Part 1

So, it was a sunny day when we had to take a photo for our ‘family’ (Chemical Engineering 2016 what I mean) with full team. We also had to stand from older to younger, and I was standing with my friends whose birthday in June. And he? He was standing in August line. Yes, his birthday is in August. Well, actually it all started because I want to give a gift for my sister. I know it’s kindda freak, but I always love my sister.

Because of that reason, I was thinking to ask help from him, to give me a ride of course, because his home is near with the place I wanted to go. So, I asked his help. At first he just looked at me and had  little light smile. But, still I looked at him, tried to be looked so sadden as I could. And finally, after some time he took for thinking, he accepted my request. Although maybe he feel a little bit objection. But, I don’t care, he want to help, that’s the only thing that matter for me. 

We had an agreement that I will wait for him until his class ended (he had an afternoon class schedule, while I had a morning class), and that’s when we will went together.

♡♡♡
I think that’s enough for the first part. I’m sorry if it’s too short, but if I don’t end it here, it will be a little strange to read it. Also, I want to tell you something.

Today, I have to studied physic, because tomorrow I have a test, and while I’m studying, I asked many questions to my friends, if I can’t answer the question. One of them is K. Of course, I take advantage from this situation. But, he only answer it with a short answer ): how sad. While my other friends answer me with a loooonngggg answer. Ok, I know he has to study also, and I’m selfish for asked him and hoping that he will answer it nicely. But, why while the other tell me in a good way, he didn’t? It’s kindda hurt me, because I like him. But, just forget it. I hope he will do his test finely. May God bless him and his work tomorrow (:

Sedikit Cerita dalam Perkuliahan

Setelah entah aku lupa berapa tulisan yang aku post dalam Bahasa Inggris, aku mau cerita sedikit dalam Bahasa Indonesia. Bukan kenapa-kenapa, dan sebenarnya kalau mau ditulis dalam Bahasa Inggris pun mau selama apapun aku tidak keberatan melakukannya. Hanya saja, aku tidak begitu yakin sedikit cerita (dan ‘uneg-uneg’ sebenarnya) cukup layak ditulis dalam bahasa itu.
Seperti yang sudah aku singgung sebelumnya, aku mahasiswa teknik kimia salah satu universitas negeri (aku rasa aku tidak perlu mengatakan dimana aku kuliah). Dan karena ini adalah semester pertamaku di dalam dunia perkuliahan jelas, aku mengalami apa yang dinamakan kaderisasi hingga kami dilantik. Namun sayangnya, walaupun kami sudah dilantik, kaderisasi itu akan terus berjalan hingga setahun sadar tidak sadar. Aku tidak menyalahkan kaderisasi tersebut, karena aku tahu kaderisasi memang perlu dilakukan di dalam dunia perkuliahan. Tentu saja agar kami lebih cepat beradaptasi. 

Namun ada hal yang aku sayangkan. Memang di universitas negeri di Jawa, orang-orang yang memeluk agama lain selain Islam merupakan minoritas. Tetapi, apakah perlu sampai hari besar agama lain dijadikan hari untuk melakukan kegiatan himpunan yang katanya harus diikuti oleh angkatan baru yang kelak akan menjadi bagian dari himpunan? Padahal jika banyak dari kami yang tidak datang, kami akan dicap angkatan buruk, dan kami akan ditegur. Sedikit prihatin juga ketika seorang komting kami mengatakan “semuanya mau masuk himpunan kan?” Hal itu jelas terkesan sedikit memaksa kami untuk mengikuti kegiatan tersebut. Bukan apa-apa, tapi apakah agama harus di nomor duakan setelah kuliah? Atau mungkin hanya perasaanku saja yang merasa kami sedikit tidak dianggap? Aku tidak mengatakan agama Islam buruk, karena kalau aku boleh mengatakan apa yang diajarkan di agama Islam juga diajarkan di agamaku. Namun, apakah harus karena kami memeluk agama minoritas kami harus sedikit diasingkan dan diberi jarak?

Tak hanya itu, di dunia ini pula kami yang bersuku tiong hua kadang-kadang mendapat perlakuan yang tidak enak. Aku memang bukan keturunan tiong hua murni, tetapi salah seorang temanku merasakannya. Ketika mendaftar dalam sebuah biro di jurusan, aku rasa seharusnya kita semua tahu bahwa seleksi yang terjadi adalah seleksi yang benar-benar profesional. Namun apakah sebuah pertanyaan “kan kamu putih kita hitam, trus gimana?” itu layak untuk dilontarkan seorang kakak tingkat ketika menyeleksi kami? Apa hanya aku yang merasa bahwa pertanyaan tersebut sedikit berlebihan untuk dilontarkan?

Yang aku tulis bukan untuk maksud apa-apa, terlebih untuk menjelek-jelekkan. Karena jujur saja aku juga punya banyak teman dekat dari ras Jawa dan juga beragama Islam. Yang sedikit memiriskan adalah ketika kami golongan minoritas mendapatkan perlakuan berbeda dari beberapa orang yang menganggap perbedaan tersebut membuat kami berbeda. Hanya itu saja yang memberatkan hatiku. Selebihnya tidak (:

K

Okay, I know the tittle is K, but relax, I won’t talk about Potassium even though I’m studying Chemical Engineering. It’s time to have a little fun and forget about lessons. So, forget about chemistry and also the proton, electron, molecules, bond, and other chemical things, and just focus to have a little bit fun in life.

What I want to write is about my crush, someone who I like right now. But, why K? Because I like his middle name (but I won’t mention it, I’m afraid he will find out my feeling if he read this), and the first letter of his lovely middle name is K. I’m going to start my story, but if you feel like my story will gonna be boring, just close this blog, and I hope you’ll find another interesting things to do.

Two days ago, December 9th, the christian and catholic friends of mine and I (in here we have a group that only for christian and catholic) went to Gunung Pati to have a place survey for our christmas agenda, of course becausr we are the committees. K is one of my catholic friends (greatfully, we have the same religion), and he also joined the survey. Because I couldn’t ride a motorcycle (actually, I can ride a motorcycle but my mom won’t let me ride it in a road way), so I got a ride with my boy friend (to be clear, he is only a friend, not my boyfriend) although I want to got a ride with K. Well, actually I don’t know wht he joined us, because he’s not one of decoration commettees, and the only commettees who had a survey was only the decoration except him and my two other girl friends. So, we went to a long long way to got there, and we also strayed away twice. 

After we got there, he only sat and listened to the decor commettees when we argued about the decoration. He also gave us some suggestion when we need it. But, because he didn’t have much things to do, after I showed him the mascot, he started to look at my galery. Well, okay, I have to admit that a little bit of me want him to do it, so I just let him. He commented about my favorite villain, Harley Quinn, and I also catched him had a light laugh sometimes. I didn’t know what pictures he was looking at, but I really admire his laugh and smile. He also teased me before we went back about a short video when I wink my eyes. He tried to immitate it, but I just pretend I didn’t care also didn’t understand. But, it’s really cute when he wink his eyes to me. Gosh, he should do it over and over again for me.

In our way back, we (just the three of us, K, my friends who give me a rode, and I) stopped to have a lunch in KFC. There we started talking about many things. Their ex-school (K and my friend, they were from the same high school), their friends, well a lot fun things they’ve done in the past. He also asked a little bit of my drink, and he raised his eyebrows when he did it. How attractive when he do it, I want to see it again. ):

But, we have to went home, so after an hour and half (maybe) talking, we went home, and my friends give me a rode. If we didn’t have to got back, I really want to be there until evening. But, I know it’s impossible.

Well, I know he don’t like me. Even though he like to tease me, sometimes he ask about myself, he help me, I know I’m not he’s type. He’s popular in my (girl) friends, he have a well build body, he have a captivating face (well, I can’t say he’s handsome, but he’s attractive of course), he’s smart, he’s rich, while I don’t have anything to compare with. I know sometimes he tell me to be careful when I ride a motorcycle, but I know he don’t really mean it. He always good to people, and stupidly I fall for it. Well, I have to tell you about the first time I started to like him someday. But, not today. It’s really a long story. Maybe in the next post. And right now, I just hope he will like me just the way I like him. It would be such a great things to have. Of course it’s better to don’t have a high hope in him, because he and I came from a different world. But, is it wrong to have a hope in him? I hope not. (:

Shared from WordPress

Short Story: Maria Josh – http://wp.me/p31pEP-Yo

(This story is really great. Well, I hope people who think their Religion is the best Religion would like to spend some of their times to read this story and realize that all Religion is good, and although there are many differences in one Religion and other Religion, their aim actually the same, to make world a better place to live with many kindness in it -AlexisR.)

By Vismay Kamate

Dearest Sushant Bhaiyya,

After my miserable failure in my semester exams, our school principal had told me to come to the school every day and sit in the library to study. So when the school closed for preparatory leave, I was the only 10th grader to come here and brood in the library. And that was where I first saw Maria.

Well, that wasn’t really the first time, for I had seen her in our house meetings in which I hardly paid any attention to what was said; the same way I did during my other lectures. I had also gone up to the notice board in the Administrative Building once to have a glance at her name. It was painted there in bold letters – GREEN HOUSE CAPTAIN: MARIA JOSH.

Initially, I used to envy you as both of you were in the same class but also wondered as to why you never spoke to any girl and why you distanced yourself from girls and boys alike of different religions. Were you afraid of Papa? It’s true that we’re orthodox Hindus, who always sport the vermillion on their foreheads and fast every Thursday. It’s also true that Papa is an active member and contributor of the Hindu Pracharak Samiti but, hey, come on, we are the 20th century generation; we ought to think outside the box and brush aside all these traditional values that don’t do the society any good.

Anyway, to come back to where I left, every day, it used to be only the two of us in the library, save for the librarian. I think she must have been given a punishment similar to mine. Although it was a peaceful environment to study in, two things distracted me a lot – one, the cranking door that swayed with the slightest breeze and, two, her face. I must confess she was very beautiful and after my stay at the library, made mandatory by the principal, I got to observe her more closely. To be honest, that’s when I fell for her.

On one occasion, Manish Sir was conducting a quiz for the 6th graders in the library and all the chairs and tables were occupied, except for the chair beside Maria and a couple of bean bags flanking the roundtables. I finally drew out courage and sat down next to her. She looked at me and it was the first time we had made eye contact. She looked away soon, leaving me glaring at her. Her textbooks lay scattered all over the table and she did not make any effort to clear her mess and make room for me. So I stacked a few books myself and put them neatly on her side of the table. She didn’t budge to have a look at that monstrous pile of standard12 textbooks but remained deeply engrossed in her Jerome. K. Jerome novel. Over the next few hours, I stole occasional glances at her and found her secretly smiling and giggling while reading her book. Seeing her innocent gestures, I firmly, yet childishly, resolved to marry her.

Over the next few days, I sat beside her almost unconsciously and she didn’t seem to mind it. Maths, physics and biology seemed like distant dreams because I couldn’t focus on anything other than the angelic beauty sitting beside me. I observed that she read her novel from 8 to 10 AM and sometimes even until 11 AM. Then, she would study until lunch time at 1:30 PM. After lunch when the librarian left for home, Maria would sneak out of the library and gossip with her friends in the classroom. And, to be honest, that would be the only time when I could concentrate on my studies.

Once while brooding over “The Structure of the Eye” in biology, I finally spoke to her.

“May I know your name?” I asked.

“Maria, Maria Josh,” she said as if she was Bond.

“Are you a Catholic?” I asked because nothing else came to my mind at that moment.

“No, I’m a Muslim, my middle name is Tabrez.” I was astonished by her reply.How could anyone named Maria Josh be a Muslim? I thought. I wondered whether she was mocking me for my weak interactive skills. But her father’s name put my doubts to rest.

“Aren’t you Sushant’s younger brother Shreyas…I guess.”

“Yes I am, but how do you know that?”

“He keeps telling me about you.”

I was baffled by her response again. Did bhaiyya even speak to girls? I had thought of asking you that but cancelled the idea as I imagined the aftermath of my move.

I was successful in establishing a rapport with her and we started to talk a lot. We sent our studies to the backburner. We shared almost everything that we shouldn’t have.  I told her about my fear of cycling on the road and my fear of the dark and how I always held the hand of an adult while crossing the road, except father’s as he considered me the coward of the entire Chaturvedi dynasty. Such simple things used to make her laugh and her laugh used to charm me. I never told her about our family’s orthodox nature but I did tell her that I was a staunch atheist. This was something I had shared with no one, not even with Shravan, for I feared it might reach Papa’s ears and he would bash me up. I told her to keep this a secret and she did.

She, too, used to tell me about her constant altercations with her parents and how she hated them as they put too many restrictions on her liberty as many Indian fathers do to their daughters. The same thing Papa did to Mrinal Didi by marrying her off to that rusty Aggarwal’s son just because they had demanded a smaller dowry.

We would eat together in the lunch hall every day. Sometimes her friends used to accompany us. She had already sensed I was trying on her and, to ward off my moves, she told me she had a boyfriend. Of course, I was heartbroken but at the same time, I considered myself luckier than her boyfriend, as I got to spend more time with her than him. The moment she would reach home, all her freedom would be taken away and she would be restricted to her room with her textbooks. Perhaps that’s why she found solace in me and her novels, which changed every three days. I never asked her about her boyfriend, nor did she ask me about my past relationships with other girls. Though I had none, I prepared some fake stories, in case the need for them arose as I didn’t want to project myself inexperienced and inferior to her.

We became the best of friends. She was the only one who ruled my mind. While sleeping or procrastinating I thought about her, replacing the two of us with the characters of a romantic Bollywood film I had recently watched or sometimes with the characters of a pornographic film I watched with Shravan on his computer. I have to say she had an appealing physique – a luscious pair of breasts and a toned bottom like hers would have been any guy’s fantasy. Shravan told me that he found me lost, but I just smiled it away. He found it strange. I found it strange too; but, yes, I was in love. I was in deep love with a girl who followed a religion our brethren were supposed to hate, a religion, Papa like his Samiti members used to curse a lot.

Soon, riots broke out just before the assembly elections with politicians making hate speeches against each other. I still remember Papa’s absence in the house at the time as he too was involved in the rioting along with his Samiti members.

She had stopped coming to the school and I understood the reason. I patiently waited for the riots to end. Those nine days in that quiet library with only the sallow librarian and the cacophonous door seemed like a nightmare with a hangover that never ends. It actually never did end.

In the morning assembly after the riots were quelled, the principal requested all of us to maintain two minutes of silence in the memory of the students who had lost their lives along with their families in the riots. He started reading a rather long list to which I paid no attention. I only kept searching for Maria’s face in the colossal crowd, but was shocked when the list ended with her name.

I blankly looked at the principal who seemed a small figure from the distance. Tears swelled in my eyes and flew down, wetting my school shirt. Even after the assembly was over, I didn’t move from my place and helplessly kept gazing at the horde of children moving in a line. The librarian with his I-card dangling over his belly came up to me, placed his hands on my shoulder and led me to the library. I read his name on his I-card – Mujeeb Rehmaan. I realized that he too was crying.

People died in the riots. Hindus died, Muslims died. Along with the people, their ideologies died, new ideas also came up. It doesn’t matter. This keeps happening every day in the remotest corners of the globe and will keep on happening as long as religion pervades this society and every person tries to claim his religion as superior to those of others. This game will continue till the last person survives on this planet. Andbhaiyya, I bet that the last person will be an atheist who will escape unhurt.

The love of my life, who followed Islam, who fasted in the month of Ramzan, who was a Muslim and, by and large, a human being, died in the riots, and my father, who was part of these riots, demolished my faith in his paternity forever. As I explained earlier, I would like to be that last person, the atheist who will stay alive after the war. So I am going to hide till the war ends and will only emerge when silence prevails, with a resolution of existing permanently.

I’m leaving the house. Please do not try to find me, continue the war.

Your younger brother,
Shreyas.

Folding the letter, Sushant rubbed his watery eyes and tucked the letter under his pillow, the same place where he had found it twenty years ago.

Bio:
Vismay Kamate is a keen learner and a voracious observer. He is in the final year of his teenage years and is pursuing a Bachelor’s degree in Mass Media from the University of Mumbai. He has a great appetite for books and loves people. He resides in Navi Mumbai, India.

***

Like Cafe Dissensus on Facebook.  Follow Cafe Dissensus on Twitter.

Cafe Dissensus Everyday is the blog of Cafe Dissensus magazine, based in New York City, USA. All materials on the site are protected under Creative Commons License.

***

Read the latest issue of Cafe Dissensus Magazine on ‘Female Genital Mutilation’, edited by Rashida Murphy, Author, Perth, Australia.